Pada suatu pertemuan bapak-bapak RT di malam hari, tercetus obrolan dari bapak-bapak yang duduk di sebelah, mengenai anak masing-masing.
Bapak A, menceritakan bahwa anaknya tidak mau lanjut kuliah lagi, karena lebih memilih mencari kerja. Alasannya, jika lanjut kuliah pun, nantinya akan mencari pekerjaan juga. Jadi mending sekarang mencari pekerjaan saja.
Bapak B, menceritakan bahwa anaknya tidak mau mengikuti profesinya sebagai pengajar di perguruan tinggi. Putra bapak B, lebih cocok berbisnis karena minatnya di ekonomi, daripada meneruskan jejak ayahnya.
Diluar sana, sebagian orang bisa memilih untuk menekuni profesi apa saja sesuai minatnya, karena memiliki ilmu, waktu dan peluang (baca: harta, privilege, or anything you name it). Sehingga tersedia pilihan-pilihan, seperti lanjut kuliah, atau bekerja melalui channel kenalannya, atau mencari sendiri keluar daerah, bahkan keluar negeri.
Golongan yang pertama ini cenderung bisa berkembang sesuai dengan minat (passion)-nya. Utamanya karena ketersediaan pilihan. Jalan rezekinya bisa jadi ada di masing-masing pilihan tersebut.
Di belahan bumi lain, ada yang menekuni pekerjaan apapun yang bisa dilakukannya. Karena tidak ada pilihan, sebagaimana golongan sebelumnya. Entah itu mengajar, buruh, karyawan swasta (baca: budak korporat), kurir, tukang, dll.
Dalam beberapa cerita, dari golongan kedua ini, ada yang bisa berkembang, entah karena kegigihannya, atau karena modalnya, atau karena jalannya sudah tepat. Disinilah sebagian orang berpendapat, apapun jalan rezekimu saat ini, ikuti saja, tekuni saja. Barangkali nanti datang waktunya saat menikmati hasil kerja kerasnya.
Ada nasihat tertulis yang pernah saya baca. “Kesibukanmu adalah dambaan orang lain yang ingin bekerja” semacam itulah. Dan dengan posisi sekarang, saya merasa lebih harus bersyukur, karena meskipun saya bukan golongan pertama, namun juga sedikit lebih baik daripada golongan kedua. Awalnya tidak ada pilihan, namun lama-lama, jalannya terbuka.
In this economy, dimana practically mencari duit itu tidak gampang, segala jalan yang telah dibentangkan-Nya bagi kita itu patut disyukuri. Karena boleh jadi itulah dambaan orang-orang lain. Boleh jadi itulah peluang yang ditunggu2 seorang bapak, agar bisa membeli susu dan popok bagi anaknya. Atau bahkan kesempatan yang ditunggu seorang nenek agar bisa makan setiap harinya.
Ala kulli hal. Saya yakin seyakin-yakinnya, Allah Maha Adil, tidak pernah meninggalkan hambaNya dalam kondisi apapun. Hanya saja cara kerja hidup kita belum tentu sesuai dengan skenario yang kita pikirkan.
Alhamdulillah.